Monday, 28 September 2015

HAKIKAT KEPEMIMPIAN DALAM ISLAM

Kepemimpinan sering sekali dijadikan sebagai obyek perbincangan dan disepelekan oleh sebagian kalangan, padahal hakikat kepemimpian dalam Islam adalah sesuatu yang sangat amat sankral. Akan tetapi dewasa ini, banyak beranggapan bahwa kepemimpinan adalah sebuah momentum untuk mengubah status social secara mendadak bak tukang sulap ketika atraksi sirkutnya. Tidak sedikit juga orang yang menjadikan kepemimpianan sebagai ajang untuk meraih populeritas dan siapa saja berhak untuk mengajukan diri dan mendapatkannya. Hal ini terbukti dari adanya minat dan kemauan yang meramba untuk menjadi pemimpin di suatu jabatan.
Kalau kita melihat dari sudut pandang kebutuhan individual terhadap jiwa kepemimipinan, ia merupakan hal yang sangat urgent dan esensial bagi kehidupan manusia. Jika setiap jenis hewan yang tidak diberi akal dan tanggung jawab mempunyai pemimpin masing-masing, maka manusia sebagai makhluk sosial seperti yang dikatakan oleh Ibn Kholdun “al Insaanu madniyyatul al thab’iy/makhluk sosial” yang diberi akal dan amanah untuk memakmurkan bumi sudah barang tentu lebih membutuhkannya. Dengan kepemimpinan, tujuan dan rencana akan lebih terorganisir dan urusan-urusan menjadi lebih ringan. Dalam sejarah sering kali kita temukan betapa banyaknya tujuan dan persoalan yang tidak bisa dipecahkan kecuali dengan adanya kepemimpinan.
Luasnya sisi kehidupan membuat manusia membutuhkan banyak kepemimpinan (red: pemimpinan) di bidangnya masing-masing. Pemimpin-pemimpin tersebut akan membantu menuju arah tujuan hidup yang hakiki. Namun tidak selamanya manusia di posisi terpimpin. Setiap manusia juga mempunyai amanah kepemimpinan dan tanggung jawab sosial. Oleh sebab itu, semua orang - laki-laki dan perempun - harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin dan memahami urgensi jiwa kepemimpinan.
Dalam komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, setiap orang harus lebih selektif dalam menentukan figur yang lebih berhak untuk mengemban amanah kepemimpinan. Ini tidak jauh berbeda dengan realitas yang kita saksikan sekarang khususnya dalam konteks pemerintahan di Negara Indonesia tercinta. Semua berhak mencalonkan diri masuk ke ranah pertarungan untuk menduduki bangku yang tersedia di pemerintahan.
Ironisnya mainset orang terhadap kepemimpinan dewasa ini sangat jauh berbeda dengan sikap orang-orang terdahulu. Nabi Muhammad SAW.,  pernah bersabda dalam riwayat yang shahih:
“Jangan engkau minta kekuasaan, karena jika engkau diberi tanpa meminta, engkau akan ditolong dalam menunaikannya dan jika engkau diberi karena minta, engkau akan diserahkan kepadanya.”
Di kesempatan lain, Umar bin al Khattaab ra., juga pernah mengatakan pasca wafatnya Nabi. Ketika itu Abu Bakar al Shiddiq ra., mengusulkan agar Umar ra., yang menggantikan kepemimpinan tersebut. Akan tetapi Umar malah menjawab: "Saya tidak pernah mendengar Abu Bakar mengatakan perkataan keji selain ini."
Secara sepintas maksud dari ungkapan Nabi dan Umar di atas, terkesan mengatakan bahwa orang yang mengajukan diri jadi pemimpin adalah perbuatan yang tercela dan tidak seharusnya dikerjakan. Akan tetapi bila dikaji lebih dalam, maksud dari ungkapan di atas adalah sebagai acuan serta dorongan bagi setiap orang untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang siap pakai; kapan pun dan dimana pun. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, jangan sekali-kali mengajukan diri tanpa adanya kesiapan yang matang, karena yang demikian bisa menimbulkan mudlarat pada kepemimpinannya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa amanah kepemimpinan boleh dianalogikan sebagai hal yang ringan dan mudah diterima, diwaktu yang sama juga sebagai hal yang sulit dan bahkan sukar untuk dijalankan.
Ketika kita melihat dari sisi positifnya, menjadi pemimpin merupakan kesempatan emas untuk menanam bibit-bibit kebaikan sekaligus sebagai ladang pahala yang tidak terkira mulianya (bila kita mengerjakan amanah tersebut sesuai tuntutannya), bahkan Nabi Muhammad menjanjikan “naungan Allah SWT kelak berhak didapatkan seorang pemimpian yang adil.” Akan tetapi, apabila ditinjau dari sisi negatifnya; dia akan menjadikan seseorang kelihatan sibuk tanpa mendatangkan manfaat; waktu terbuang tak terasa bahkan bisa juga menjerumuskannya ke lembah kehinaan.
Umar pernah mengatakan: “Kepemimpinan (yang tidak dibarengi dengan kemapaman dibidangnya) akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.” Oleh karena itu, hanya mereka yang tulus untuk berdedikasi dan benar-benar bersedia mengemban amanah kepemimpinan yang bisa terlepas dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Memiliki akhlak yang mulia, arif dan bijaksana, juga mempunyai visi dan misi yang konstruktif demi kebersamaan di dalam satu komunitas, boleh dikatakan sebagai standar minimal dari pemimpin ideal. Selagi ada Abu Bakar al Shiddiq, Umar bin al Khattaab ra., tidak pernah mendahuluinya; bukan karena Umar ra., tidak pantas menjadi pemimpian. Akan tetapi Umar ra., menerapkan kaidah kepemimpian “kapan saja ada orang yang mempunyai keperibadian yang lebih unggul, maka dialah yang lebih berhak menjadi pemimpin”
Dengan kata lain, siapa pun boleh menjadi pemimpin, bahkan mengajukan diri sekali pun. Akan tetapi semuanya mempunyai parameter di dalam menentukan yang terbaik. Dan kita juga dituntut untuk lebih selektif dalam memilih pemimpin yang arif dan bijak, sekaligus yang mempunyai jiwa membangun demi kebersamaan.
Pemimpin ideal adalah pemimpin yang mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan dengan kepentingan pribadi, kelompok atau golongan sekalipun. Seorang yang terpilih dan diamanahkan sebagai pemegang tanduk kepemimpian pemerintahan, harus meninggalkan embel-embel kelompok/golongan pengusungnya demi terciptanya obyektifitas di dalam mengambil suatu keputusan berazaskan kebersamaan. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa carut-marut dunia perpolitikan (red: kepemimpinan) dewasa ini berawal dari salahnya memahami hakikat kepemimpinan dalam Islam.
Di sisi lain masyarakat yang memiliki hak untuk menentukan pemimpin juga harus lepas dari rasisme, sukuisme, dan partaisme dan bentuk isme lainnya. Selama masyarakat dicekokin dengan berbagai macam kepenting sesaat dan bujuk rayuan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dunia kepemimpinan akan tetap terpuruk.
Sebagai kesimpulan bahwa seorang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dan suara masyarakat. Dengan demikian kesecrdasan masyarakat menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki wajah kepemimpinan Indonesia menuju pemimpin yang ideal sesuai anjuran Islam. Apabila masyarakat menjatuhkan pilihannya dengan pertimbangan agama dan mengesampingkan berbagai kepentingan peribadi, kelompok, golongan dan lain sebagainya; niscaya pemimpina ideal harapan umat dan bangsa akan segera terwujud. Semoga Allah membimbinga pemimpin-pemimpin kita ke jalan yang dicintai dan diridloiNya. Allahumma Amin.

Oleh: Sufrin Efendi Lubis

1 comment:

Anonymous said...

The best titanium glasses frames from the 'Sonic the Hedgehog' to
‎THE BEST TIGER MEGAWAYS · ‎The titanium ranger Best Titanium silicone dab rig with titanium nail Goggles for Gearing Heads · ‎The Best Best The Thrill of titanium glasses frames the revlon hair dryer brush titanium Fight · ‎The Best Thrill of the Fight · ‎The Thrill titanium dive watch of the Fight