Kepemimpinan sering sekali dijadikan sebagai obyek perbincangan dan disepelekan oleh sebagian kalangan, padahal hakikat kepemimpian dalam Islam
adalah sesuatu yang sangat amat sankral. Akan tetapi dewasa ini, banyak beranggapan
bahwa kepemimpinan adalah sebuah momentum
untuk mengubah status social secara
mendadak bak tukang sulap ketika atraksi sirkutnya. Tidak sedikit juga orang yang menjadikan kepemimpianan
sebagai ajang untuk meraih populeritas dan
siapa saja berhak untuk mengajukan diri dan mendapatkannya. Hal ini terbukti dari adanya minat dan kemauan yang meramba untuk
menjadi pemimpin di suatu jabatan.
Kalau kita melihat dari sudut pandang kebutuhan individual terhadap
jiwa kepemimipinan, ia merupakan hal yang sangat urgent dan
esensial bagi kehidupan manusia. Jika setiap jenis hewan yang tidak diberi akal
dan tanggung jawab mempunyai pemimpin masing-masing, maka manusia sebagai
makhluk sosial seperti yang dikatakan oleh Ibn Kholdun “al Insaanu madniyyatul
al thab’iy/makhluk sosial” yang diberi akal dan amanah untuk memakmurkan bumi
sudah barang tentu lebih membutuhkannya. Dengan kepemimpinan, tujuan dan
rencana akan lebih terorganisir dan urusan-urusan menjadi lebih ringan. Dalam
sejarah sering kali kita temukan betapa banyaknya tujuan dan persoalan yang
tidak bisa dipecahkan kecuali dengan adanya kepemimpinan.
Luasnya sisi kehidupan membuat manusia membutuhkan banyak kepemimpinan (red: pemimpinan) di bidangnya masing-masing. Pemimpin-pemimpin tersebut akan
membantu menuju arah tujuan hidup yang hakiki.
Namun tidak selamanya manusia di posisi terpimpin. Setiap manusia juga
mempunyai amanah kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.
Oleh sebab itu, semua orang - laki-laki dan
perempun - harus mempersiapkan diri untuk
menjadi pemimpin dan memahami urgensi jiwa kepemimpinan.
Dalam komunitas yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan,
setiap orang harus lebih selektif dalam menentukan figur yang lebih berhak
untuk mengemban amanah kepemimpinan. Ini tidak jauh berbeda dengan realitas
yang kita saksikan sekarang khususnya dalam konteks
pemerintahan di Negara Indonesia tercinta.
Semua berhak mencalonkan diri masuk ke ranah pertarungan untuk menduduki bangku yang tersedia di pemerintahan.
Ironisnya mainset orang terhadap kepemimpinan dewasa ini sangat
jauh berbeda dengan sikap orang-orang terdahulu. Nabi Muhammad SAW., pernah bersabda dalam riwayat yang shahih:
“Jangan engkau minta kekuasaan, karena jika engkau diberi tanpa
meminta, engkau akan ditolong dalam menunaikannya dan jika engkau diberi karena
minta, engkau akan diserahkan kepadanya.”
Di kesempatan lain, Umar bin al Khattaab ra.,
juga pernah mengatakan pasca wafatnya Nabi. Ketika itu Abu Bakar al Shiddiq ra.,
mengusulkan agar Umar ra., yang
menggantikan kepemimpinan tersebut. Akan tetapi Umar malah menjawab: "Saya
tidak pernah mendengar Abu Bakar mengatakan perkataan keji selain ini."
Secara sepintas maksud dari ungkapan Nabi dan Umar di atas,
terkesan mengatakan bahwa orang yang mengajukan diri jadi pemimpin adalah
perbuatan yang tercela dan tidak seharusnya dikerjakan. Akan tetapi bila dikaji
lebih dalam, maksud dari ungkapan di atas adalah sebagai acuan serta dorongan
bagi setiap orang untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin yang siap pakai;
kapan pun dan dimana pun. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, jangan
sekali-kali mengajukan diri tanpa adanya kesiapan yang matang, karena yang
demikian bisa menimbulkan mudlarat pada kepemimpinannya. Oleh karena itu,
jelaslah bahwa amanah kepemimpinan boleh dianalogikan sebagai hal yang ringan
dan mudah diterima, diwaktu yang sama juga sebagai hal yang sulit dan bahkan
sukar untuk dijalankan.
Ketika kita melihat dari sisi positifnya, menjadi pemimpin
merupakan kesempatan emas untuk menanam bibit-bibit kebaikan sekaligus sebagai
ladang pahala yang tidak terkira mulianya (bila kita mengerjakan amanah
tersebut sesuai tuntutannya), bahkan Nabi Muhammad menjanjikan “naungan Allah
SWT kelak berhak didapatkan seorang pemimpian yang adil.” Akan tetapi, apabila
ditinjau dari sisi negatifnya; dia akan menjadikan seseorang kelihatan sibuk
tanpa mendatangkan manfaat; waktu terbuang tak terasa bahkan bisa juga
menjerumuskannya ke lembah kehinaan.
Umar pernah mengatakan: “Kepemimpinan (yang tidak dibarengi dengan
kemapaman dibidangnya) akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari.” Oleh
karena itu, hanya mereka yang tulus untuk berdedikasi dan
benar-benar bersedia mengemban amanah kepemimpinan yang bisa terlepas dari
hal-hal yang tidak diinginkan.
Memiliki akhlak yang mulia, arif dan bijaksana, juga mempunyai visi
dan misi yang konstruktif demi kebersamaan di dalam satu komunitas, boleh
dikatakan sebagai standar minimal dari pemimpin ideal. Selagi ada Abu Bakar al
Shiddiq, Umar bin al Khattaab ra., tidak pernah mendahuluinya; bukan karena
Umar ra., tidak pantas menjadi pemimpian. Akan tetapi Umar ra., menerapkan
kaidah kepemimpian “kapan saja ada orang yang mempunyai keperibadian yang lebih
unggul, maka dialah yang lebih berhak menjadi pemimpin”
Dengan kata lain, siapa pun boleh menjadi pemimpin, bahkan
mengajukan diri sekali pun. Akan tetapi semuanya mempunyai parameter di
dalam menentukan yang terbaik. Dan kita juga dituntut untuk lebih selektif
dalam memilih pemimpin yang arif dan bijak, sekaligus yang mempunyai jiwa
membangun demi kebersamaan.
Pemimpin
ideal adalah pemimpin yang mengutamakan kepentingan bersama dibandingkan dengan
kepentingan pribadi, kelompok atau golongan sekalipun. Seorang yang terpilih
dan diamanahkan sebagai pemegang tanduk kepemimpian pemerintahan, harus
meninggalkan embel-embel kelompok/golongan pengusungnya demi terciptanya
obyektifitas di dalam mengambil suatu keputusan berazaskan kebersamaan. Dengan
demikian dapat dipastikan bahwa carut-marut dunia perpolitikan (red:
kepemimpinan) dewasa ini berawal dari salahnya memahami hakikat kepemimpinan
dalam Islam.
Di sisi lain
masyarakat yang memiliki hak untuk menentukan pemimpin juga harus lepas dari
rasisme, sukuisme, dan partaisme dan bentuk isme lainnya. Selama masyarakat
dicekokin dengan berbagai macam kepenting sesaat dan bujuk rayuan oleh
pihak-pihak yang berkepentingan dunia kepemimpinan akan tetap terpuruk.
Sebagai kesimpulan
bahwa seorang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin tidak akan terwujud tanpa
adanya dukungan dan suara masyarakat. Dengan demikian kesecrdasan masyarakat
menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki wajah kepemimpinan Indonesia menuju
pemimpin yang ideal sesuai anjuran Islam. Apabila masyarakat menjatuhkan
pilihannya dengan pertimbangan agama dan mengesampingkan berbagai kepentingan
peribadi, kelompok, golongan dan lain sebagainya; niscaya pemimpina ideal
harapan umat dan bangsa akan segera terwujud. Semoga Allah membimbinga
pemimpin-pemimpin kita ke jalan yang dicintai dan diridloiNya. Allahumma Amin.
Oleh: Sufrin Efendi Lubis
Oleh: Sufrin Efendi Lubis
1 comment:
The best titanium glasses frames from the 'Sonic the Hedgehog' to
THE BEST TIGER MEGAWAYS · The titanium ranger Best Titanium silicone dab rig with titanium nail Goggles for Gearing Heads · The Best Best The Thrill of titanium glasses frames the revlon hair dryer brush titanium Fight · The Best Thrill of the Fight · The Thrill titanium dive watch of the Fight
Post a Comment