Bahasa dan ilmu
pengetahuan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan; keduanya saling
membutuhkan dan melengkapi. Karena bahasa adalah kunci utama pengetahuan.
Memegang kunci utama pengetahuan berarti memegang kunci perkembangan dunia.
Sebab, jutaan ilmu pengetahuan dan peradaban tertuang dalam bahasa. Bahkan
sejarah tidak akan terwarisi sampai ke masa kita sekarang jika tidak ada bahasa
sebagai media dalam pengkodifikasian berbagai informasi, ilmu pengetahuan dan
perkembangan. Bahasa adalah satu di antara kunci utama untuk membuka jalan
menuju masa depan yang gilang-gemilang.
Di antara
bahasa dunia yang berperan penting sebagai kunci pengetahuan adalah bahasa
Arab. Tidak diragukan, mempelajari bahasa Arab berarti mempelajari ilmu untuk
sesuatu yang besar. Karena sumber pengetahuan banyak menggunakan bahasa Arab.
Di samping bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang banyak
diminati, digunakan dan dipelajari, terutama di daerah Timur Tengah, sebagian
negara Afrika dan beberapa negara Islam lainnya.
Pada Abad
Pertengahan bahasa Arab juga merupakan alat utama budaya, terutama dalam sains,
matematika dan
filsafah, yang menyebabkan banyak bahasa Eropa turut mengadopsi banyak kosakata
dari bahasa Arab. Bahasa Arab satu di antara bahasa yang paling banyak digunakam
umat manusia, dan merupakan bahasa yang tersebar di belahan dunia; lebih dari
empat ratus juga pengguna bahasa Arab khususnya di negara arab sendiri, di
samping masih banyak negara selain negara arab lainnya juga mempelajari bahasa Arab.
Dan faktanya, bahasa Arab ini juga satu dari tujuh bahasa yang paling banyak
digunakan di media sosial seperti internet.[1]
Bahasa Arab
termasuk bahasa dunia yang telah berumur ribuan tahun, namun tidak mengalami
perubahan-perubahan yang berarti. Ketangguhan bahasa Arab dapat dibuktikan
dengan kemampuanya menampung berbagai perkembangan modern tanpa harus terkikis
oleh arus globalisasi modern. Selama 14 abad bahasa Arab telah mampu menjadi
wadah keagungan kebudanyaan dan peradapan agama Islam.[2]
Sejatinya bahasa
Arab menjadi syarat kesempurnaan pemahaman Islam seorang. Dan tidak terlalu
berlebihan apabila sekelompok orang tertentu diwajibkan menguasai bahasa Arab.
Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam dituntut untuk bisa mengerti bahasa Arab
dengan baik, karena bagaimanapun kita tidak mungkin bisa mengaplikasikan isi
kandungan al-Qur'an dan Hadits itu secara sempurna, tanpa memahami bahasa Arab
dengan baik. Hal ini seperti yang disebutkan Ibn Taimiyah bahwa:
“Bahasa Arab
merupakan bahasa kita terakhir yang Allah turunkan; bahasa Arab ini merupakan
bahasa Al Quran, hadits, dengan bahasa juga seorang muslim melakukan ibadahnya
dan menerapkan hukum-hukum dalam agama. Bahkan mempelajarinya adalah sebuah keajiban karena al
Quran dan al Hadits menggunakan bahasa Arab, dan sesuatu yang tidak dapat
tercapai tampanya menjadi wajib juga.”
Di sisi lain
banyak di antara pemuka gereja yang menulis buku-buku mereka dengan menggunakan
bahasa Arab ini, seperti Musa Ibn Maimun dan Sa’id al Fayyumi tentang filsafat,
Ishaq al Fasi tentang tafsir taurat, dan Al Lawy tentang syair-syair keagamaan.[3]
Demikian pula
dengan kaum orientalis. Mempelajari bahasa Arab dianggap sebagai modal dasar untuk
sampai kepada tujuan. Mereka menyadari bahwa khazanah Islam tidak akan pernah
digali sebelum menguasai bahasa pengantarnya yaitu bahasa Arab. Terlepas dari
orientasi masing-masing dari mereka, akan tetapi mereka meyakini semuanya harus
dimulai dari bahasa Arab.
Rageb al
Sirjani mengatakan ketika diwawancarai oleh salah satu stasiun TV swasta Mesir
“dari sinilah Eropa yang gelap pada zaman pertengahan itu mulai terang, dan
lahirlah zaman pembaruan setelah mengambil dan memindahkan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan dari kaum muslimin kedunia barat. Seorang orentalis belumlah lengkap
rasanya, apabila ia belum mampu dan mengerti bahasa Arab. Bagi mereka
bahasa Arab sangatlah penting. Karena untuk membaca dan mengetahui karya
cendikiawan muslim tidaklah cukup bila hanya melalui terjemahan. Inilah yang mendorong
mereka untuk mempelajari bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, sehingga bahasa
Arab cepat berkembang dikalangan barat sejak abad pertengahan sampai sekarang.”
*Sufrin Efendi Lubis
[1]Lihat
Ali Ahmad Madkur, Tadris Funun al-Lughoh al-Arabiyyah, Dar al Fikr al Arabi,
Bairut, 2000, dan Majallatu al-Istisyraq, Bagdad, jld. 2, hal. 57, 1987
[2]Anwar al-Jundi, Muqoddimaat al`ulum wal manaahij.
Darul Anshoor,Kairo, Ttp, hal:4/9-10
[3]Muhammad
Abdu al-Mun’im, Majallatu al-Manhal, (Bagdad: 1989), hal.199
No comments:
Post a Comment