Wednesday, 30 September 2015

ORIENTALIS DAN BAHASA ARAB (Pendahuluan Jurnal)

Bahasa dan ilmu pengetahuan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan; keduanya saling membutuhkan dan melengkapi. Karena bahasa adalah kunci utama pengetahuan. Memegang kunci utama pengetahuan berarti memegang kunci perkembangan dunia. Sebab, jutaan ilmu pengetahuan dan peradaban tertuang dalam bahasa. Bahkan sejarah tidak akan terwarisi sampai ke masa kita sekarang jika tidak ada bahasa sebagai media dalam pengkodifikasian berbagai informasi, ilmu pengetahuan dan perkembangan. Bahasa adalah satu di antara kunci utama untuk membuka jalan menuju masa depan yang gilang-gemilang.
Di antara bahasa dunia yang berperan penting sebagai kunci pengetahuan adalah bahasa Arab. Tidak diragukan, mempelajari bahasa Arab berarti mempelajari ilmu untuk sesuatu yang besar. Karena sumber pengetahuan banyak menggunakan bahasa Arab. Di samping bahasa Arab merupakan salah satu bahasa internasional yang banyak diminati, digunakan dan dipelajari, terutama di daerah Timur Tengah, sebagian negara Afrika dan beberapa negara Islam lainnya.
Pada Abad Pertengahan bahasa Arab juga merupakan alat utama budaya, terutama dalam sains, matematika dan filsafah, yang menyebabkan banyak bahasa Eropa turut mengadopsi banyak kosakata dari bahasa Arab. Bahasa Arab satu di antara bahasa yang paling banyak digunakam umat manusia, dan merupakan bahasa yang tersebar di belahan dunia; lebih dari empat ratus juga pengguna bahasa Arab khususnya di negara arab sendiri, di samping masih banyak negara selain negara arab lainnya juga mempelajari bahasa Arab. Dan faktanya, bahasa Arab ini juga satu dari tujuh bahasa yang paling banyak digunakan di media sosial seperti internet.[1]
Bahasa Arab termasuk bahasa dunia yang telah berumur ribuan tahun, namun tidak mengalami perubahan-perubahan yang berarti. Ketangguhan bahasa Arab dapat dibuktikan dengan kemampuanya menampung berbagai perkembangan modern tanpa harus terkikis oleh arus globalisasi modern. Selama 14 abad bahasa Arab telah mampu menjadi wadah keagungan kebudanyaan dan peradapan agama Islam.[2]
Sejatinya bahasa Arab menjadi syarat kesempurnaan pemahaman Islam seorang. Dan tidak terlalu berlebihan apabila sekelompok orang tertentu diwajibkan menguasai bahasa Arab. Hal ini menunjukkan bahwa umat Islam dituntut untuk bisa mengerti bahasa Arab dengan baik, karena bagaimanapun kita tidak mungkin bisa mengaplikasikan isi kandungan al-Qur'an dan Hadits itu secara sempurna, tanpa memahami bahasa Arab dengan baik. Hal ini seperti yang disebutkan Ibn Taimiyah bahwa:
“Bahasa Arab merupakan bahasa kita terakhir yang Allah turunkan; bahasa Arab ini merupakan bahasa Al Quran, hadits, dengan bahasa juga seorang muslim melakukan ibadahnya dan  menerapkan hukum-hukum dalam agama. Bahkan mempelajarinya adalah sebuah keajiban karena al Quran dan al Hadits menggunakan bahasa Arab, dan sesuatu yang tidak dapat tercapai tampanya menjadi wajib juga.

Di sisi lain banyak di antara pemuka gereja yang menulis buku-buku mereka dengan menggunakan bahasa Arab ini, seperti Musa Ibn Maimun dan Sa’id al Fayyumi tentang filsafat, Ishaq al Fasi tentang tafsir taurat, dan Al Lawy tentang syair-syair keagamaan.[3]
Demikian pula dengan kaum orientalis. Mempelajari bahasa Arab dianggap sebagai modal dasar untuk sampai kepada tujuan. Mereka menyadari bahwa khazanah Islam tidak akan pernah digali sebelum menguasai bahasa pengantarnya yaitu bahasa Arab. Terlepas dari orientasi masing-masing dari mereka, akan tetapi mereka meyakini semuanya harus dimulai dari bahasa Arab.
Rageb al Sirjani mengatakan ketika diwawancarai oleh salah satu stasiun TV swasta Mesir “dari sinilah Eropa yang gelap pada zaman pertengahan itu mulai terang, dan lahirlah zaman pembaruan setelah mengambil dan memindahkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dari kaum muslimin kedunia barat. Seorang orentalis belumlah lengkap rasanya, apabila ia belum mampu dan mengerti bahasa Arab. Bagi  mereka bahasa Arab sangatlah penting. Karena untuk membaca dan mengetahui karya cendikiawan muslim tidaklah cukup bila hanya melalui terjemahan. Inilah yang mendorong mereka untuk mempelajari bahasa Arab dengan sungguh-sungguh, sehingga bahasa Arab cepat berkembang dikalangan barat sejak abad pertengahan sampai sekarang.”

*Sufrin Efendi Lubis



[1]Lihat Ali Ahmad Madkur, Tadris Funun al-Lughoh al-Arabiyyah, Dar al Fikr al Arabi, Bairut, 2000, dan Majallatu al-Istisyraq, Bagdad, jld. 2, hal. 57, 1987
[2]Anwar al-Jundi, Muqoddimaat al`ulum wal manaahij. Darul Anshoor,Kairo, Ttp, hal:4/9-10
[3]Muhammad Abdu al-Mun’im, Majallatu al-Manhal, (Bagdad: 1989), hal.199 

No comments: