Wednesday, 30 September 2015

SETANGKAI DUA MELATI

Bab Satu
Angin berhembus sekencang-kencangnya, dedaunan berguguran melayang kesana kemari tanpa arah dan tujuan yang pasti; sekedar mengucapkan salam perpisahan. Debu pun menggumpal ke awan, menjelma sebagai tanda pertempuran akan segera dimulai.  Jasa masih terpekur di ruang tamu, pandangannya kosong dengan berbagai fikiran yang berkecamuk dalam otaknya. Matanya sayu seperti tak ada gairah hidup yang terpancar dari bola matanya.
“Kamu kemana aja, Sa?” tanya Ferry yang menepuk pundak Jasa. Sontak Jasa kaget bukan main, lamunannya buyar seketika.
“Ah… kamu, Ry..?? ngagetin aja..!!!” jawabnya sambil mengelus dada, karena rasa kagetnya belum hilang, “Aku nggak kemana-mana kok, palingan di rumah dan kadang  ke sawah bantu-bantu Ibu. Cuman aku memang lagi bingung,  Ry,” jawab Jasa pelan sambil menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
 “Bingung…? Bingung kenapa, Sa? Baru diputusin yah? tanya Ferry menggoda, seraya mengambil tempat duduk di salah satu bangku rotan di samping Jasa. Jasa terdiam tanpa ekspresi sambil menjulurkan kakinya yang dari tadi ditekuknya.
“Ya sudah, biarin sajalah..! Mungkin  dia bukan yang terbaik untukmu, Sa.” Ferry berusaha membesarkan hati sahabatnya. Jasa lagi-lagi terdiam, menarik nafas panjang, pandangannya menerobos ke awang-awang. Hampa. Ternyata benar yang selama ini ia dengar, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Ya, tepatnya ia merasa harga dirinya diinjak-injak karena cintanya diputus sebelah pihak, dan itu membuat dia sakit hati. Tapi tak tahu harus berbuat apa selain bermuram durja.
“Woi, Man…! Jangan murung lagi ah, mending kita main PS yuk!” lagi-lagi suara Ferry membuyarkan lamunannya. Ternyata Ferry tak mau menyerah juga membujuknya dan menghibur sangat baiknya ini.
“Sa, masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari dia. Bangunlah kawan!” Tangan Ferry menunjuk-nunjuk ke luar, gaya sok tahunyapun muncul, padahal ia sendiri tidak punya pacar. “Apa kata dunia jika seorang Jasa langsung terpuruk hanya karena wanita?” lanjutnya dengan suara dimirip-miripin dengan tokoh di film Nagabonar.
"Ha ha ha...," tawa Ferry tiba-tiba meledak di samping temannya yang lagi murung ini.
“Kok kamu yang ketawa?” Jasa terpancing juga, tapi masih memakai topeng muka murung dan kesalnya.
“Habis, kamu nggak mau ketawa sih, ya udah aku ketawa sendiri aja, ha ha ha …” tawa versi pak lampirnya kembali membahana.
“Kacau lo.”
“Lo yang kacau, ha ha ha…”
Jasa sebal bukan main dan melakukan aksi walk out. Ferry terbengong-bengong dan menghentikan aksi konyolnya. Itu artinya bercandanya sudah kelewatan. Sebenarnya, Ferry tadi hanya sekedar bercanda, tak lebih. Sekalipun cara menghibur yang dia lakukan mungkin kurang tepat.
Ferry hanya tidak tega melihat teman dekatnya ini terpuruk dalam ranah yang tak jelas. Sudah lima hari berlalu, Jasa tak pernah kelihatan beraktivitas seperti biasa; tidak ada di Masjid, juga tidak di tempat main volley belakang rumah pak kepala desa. Belum lagi malam jum'at kemaren; harusnya giliran Jasa sebagai pemandu yasinan remaja Masjid di kampungnya. Tapi dia tidak muncul.
Jasa juga sebenarnya tahu kalau temannya ini lagi bercanda. Mereka berteman bukan sehari dua hari. Tapi sudah lumayan lama. Sejak sekolah dasar mereka berdua sudah akrab. Terus berlanjut sampai mereka duduk di bangku SMP, bahkan hampir setiap hari Ferry selalu menyambangi rumah Jasa. Ferry telah ia anggap seperti saudara kandung.
Dengan mengendap Jasa melangkah ke ruang tamu, ia keluar dari tempat persembunyiannya. Ferry masih duduk di bangku rotan sambil membuka-buka majalah yang tergeletak di atas meja.
“Kok masih ketawa, sih? “ tanya Jasa merengut demi mendapati sobat karibnya masih terkekeh kegirangan. Ferry mengangkat kepalanya lalu menoleh ke belakang, mencari sumber suara.

 “Wah, tuan putra sudah selesai ngambek.” Godanya lagi. Air muka Jasa bertambah keruh diledekin terus oleh Ferry.
Bersambung...

*Sufrin Efendi Lubis

No comments: