Bab Satu
Angin berhembus sekencang-kencangnya, dedaunan
berguguran melayang kesana kemari tanpa arah dan tujuan yang pasti; sekedar mengucapkan
salam perpisahan. Debu pun menggumpal ke awan, menjelma sebagai tanda
pertempuran akan segera dimulai. Jasa
masih terpekur di ruang tamu, pandangannya kosong dengan berbagai fikiran yang
berkecamuk dalam otaknya. Matanya sayu seperti tak ada gairah hidup yang
terpancar dari bola matanya.
“Kamu kemana aja, Sa?” tanya Ferry yang menepuk pundak
Jasa. Sontak Jasa kaget bukan main, lamunannya buyar seketika.
“Ah… kamu, Ry..?? ngagetin aja..!!!” jawabnya sambil
mengelus dada, karena rasa kagetnya belum
hilang, “Aku nggak kemana-mana kok, palingan di rumah
dan kadang ke sawah bantu-bantu Ibu.
Cuman aku memang lagi bingung, Ry,”
jawab Jasa pelan sambil menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya
perlahan.
“Bingung…? Bingung
kenapa, Sa? Baru diputusin yah? tanya Ferry menggoda, seraya mengambil tempat
duduk di salah satu bangku rotan di samping Jasa. Jasa terdiam tanpa ekspresi sambil menjulurkan
kakinya yang dari tadi ditekuknya.
“Ya sudah, biarin sajalah..! Mungkin dia bukan yang terbaik untukmu, Sa.” Ferry
berusaha membesarkan hati sahabatnya. Jasa lagi-lagi terdiam, menarik nafas
panjang, pandangannya menerobos ke awang-awang. Hampa. Ternyata benar yang
selama ini ia dengar, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Ya, tepatnya ia
merasa harga dirinya diinjak-injak karena cintanya diputus sebelah pihak, dan
itu membuat dia sakit hati. Tapi tak tahu harus berbuat apa selain bermuram
durja.
“Woi, Man…! Jangan murung lagi ah, mending kita
main PS yuk!” lagi-lagi suara Ferry membuyarkan lamunannya. Ternyata Ferry tak
mau menyerah juga membujuknya dan menghibur sangat baiknya
ini.
“Sa, masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik
dari dia. Bangunlah kawan!” Tangan Ferry menunjuk-nunjuk ke luar, gaya sok
tahunyapun muncul, padahal ia sendiri tidak punya pacar. “Apa kata dunia jika
seorang Jasa langsung terpuruk hanya karena wanita?” lanjutnya dengan suara
dimirip-miripin dengan tokoh di film Nagabonar.
"Ha ha ha...," tawa Ferry tiba-tiba meledak di
samping temannya yang lagi murung ini.
“Kok kamu yang ketawa?” Jasa terpancing juga, tapi masih
memakai topeng muka murung dan kesalnya.
“Habis, kamu nggak mau ketawa sih, ya udah aku ketawa
sendiri aja, ha ha ha …” tawa versi pak lampirnya kembali membahana.
“Kacau lo.”
“Lo yang kacau, ha ha ha…”
Jasa sebal bukan main dan melakukan aksi walk out.
Ferry terbengong-bengong dan menghentikan aksi konyolnya. Itu artinya bercandanya
sudah kelewatan. Sebenarnya, Ferry tadi hanya sekedar bercanda, tak lebih. Sekalipun
cara menghibur yang dia lakukan mungkin kurang tepat.
Ferry hanya tidak tega melihat teman dekatnya ini terpuruk
dalam ranah yang tak jelas. Sudah lima hari berlalu, Jasa tak pernah kelihatan
beraktivitas seperti biasa; tidak ada di Masjid, juga tidak di tempat main
volley belakang rumah pak kepala desa. Belum lagi malam jum'at kemaren;
harusnya giliran Jasa sebagai pemandu yasinan remaja Masjid di kampungnya. Tapi
dia tidak muncul.
Jasa juga sebenarnya tahu kalau temannya ini lagi bercanda.
Mereka berteman bukan sehari dua hari. Tapi sudah lumayan lama. Sejak sekolah dasar
mereka berdua sudah akrab. Terus berlanjut sampai mereka duduk di bangku SMP, bahkan
hampir setiap hari Ferry selalu menyambangi rumah Jasa. Ferry telah ia anggap
seperti saudara kandung.
Dengan mengendap Jasa melangkah ke ruang tamu, ia keluar
dari tempat persembunyiannya. Ferry masih duduk di bangku rotan sambil
membuka-buka majalah yang tergeletak di atas meja.
“Kok masih ketawa, sih? “ tanya Jasa merengut demi
mendapati sobat karibnya masih terkekeh kegirangan. Ferry mengangkat kepalanya
lalu menoleh ke belakang, mencari sumber suara.
“Wah, tuan putra
sudah selesai ngambek.” Godanya lagi. Air muka Jasa bertambah keruh diledekin
terus oleh Ferry.
Bersambung...
*Sufrin Efendi Lubis
*Sufrin Efendi Lubis
No comments:
Post a Comment