Monday, 28 September 2015

ISLAM MENUNTUT PERUBAHAN

Manusia sejatinya memiliki tujuan akhir dari sebuah proses, meskipun hasil tak selamanya mengindikasikan hakikat proses tersebut. Akan tetapi, proses yang maksimal menjadi awal terciptanya kesuksesan. Juga dapat dianalogikan bahwa dasar dari sebuah kesuksesan terpancar pada komponen kepercayaan, cara pandangan hidup, kedewasaan penyikapan, dan penumbuhan antusiasme untuk penggapain suatu target.
Seorang Muslim yang mempercayai adanya kehidupan setelah kehidupan dunia akan bersikap sesuai dengan keyakinannya. Segala aktivitas penuh dengan pertimbangan, karena dalam agamanya menganjurkan untuk berpikir sebelum bertindak; juga segala gerak-gerik kehidupannya tarlihat dari kanvas raksasa kehidupan. Perbuatan sekecil apapun mempunyai nilai positif-negatif sesuai dengan kadar penentuannya. Oleh karenanya, komponen kepercayaan dan cara pendefinisian arti sebuah kehidupan menjadi parameter dan penentu kesuksesan.
Dalam skala bermasyarakat dan dunia international, pada umumnya selalu berotasi sesuai dengan ritme kepekaan dalam mengkonsumsi alam sekitar. Kejenuhan tak dapat dihindari dari sebuah perjalanan panjang, lelah dan ingin berpindah dari represi menuju reformasi yang menghendaki suatu upaya untuk merobohkan suatu tabiat, bangkit dari sistem lama dan memadukannya dengan gagasan baru. Karena perubahan ibarat “leave one place and go to enter another” yang senantiasa berkaitan dengan -dialektika, logika, romantika, dan pembangunan- penuh dengan eksperimen yang keakuratannya dapat dipertanggungjawabkan. Sejatinya perubahan itu juga harus terarah dan memiliki konsep yang matang seperti yang diungkapan oleh  Gerald E. Caiden adalah “the artificial inducement of administrative transformation against resistance.” Yakni perubahan terencana atau perubahan yang dipersiapkan secara matang. Imam Syafi’i pernah mengatakan air yang jernih pun akan menjadi keruh kalau tidak mengalir dan berpindah.
إني رأيت وقوف الماء يفسده * إن ساح طاب وإن لم يجر لم يطب
“Sesungguhnya aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya/tidak mengalir, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air itu mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan.”
Pribadi muslim yang baik selalu berupaya untuk berubah dari satu fase menuju fase yang lebih bermakna, justru ketika seorang muslim yang mengaku baik namun tanpa ada tekat untuk berubah, tidak dikatakan muslim yang baik. Karena diantara pancaran kebaikan tersebut menjadikan pelakunya ingin selalu meningkat dan tidak pernah merasa puas dengan kebaikan yang sudah diperoleh.
Munculnya ajaran Islam di Dunia Arab boleh dianalogikan sebagai solusi dari diskulpasi orang Arab ketika itu. Dan kebiasaan mereka membudaya hingga menjadi factor pemicu lahirnya diskriminatif antar berbagai kultur dan jenis, juga meramba pada dikotomi warna kulit, kesukuan, perbedaan gender dan lain sebagainya. Kriminalitas orang Arab pun merajalela, sehingga penamaan yang lumayan fenomenal hingga sekarang menjadi saksi bisu atas sifat disobesiensi mereka yakni “zaman jahiliyah”, karena ketidak patuhan mereka terhadap kemaslahatan bersama dan mengedepankan kepentingan pribadi, bahkan mengabaikan peraturan-paraturan Ilahi yang kian membias dan menipis. Tak dapat dipungkiri hal ini menjadi factor kejenuhan mereka sehingga merindukan kondisi yang lebih baik, karena tabiat manusia pada dasarnya lurus dan mulus sesuai dengan fitrah dan akan berubah sebab pewarnaan sekelilingnya.
Pada masa awal pendeklarasian Islam di Kota Makkah tidak sedikit di antara Arab Quraisy yang tergiur dengan tawan-tawan Islam. Kejenuhan dengan sistem lama mendorong mereka untuk mencari suasana baru yang berbeda. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadikan mereka untuk menolak Islam dan ajarannya.
Perubahan ini dapat terjadi pada/bentuk apa saja. Mulai dari komponen terkecil hingga pada skala bernegara. Seorang diri bisa saja merubah dirinya sendiri dan berdampak pada tatanan masyarakat atau dunia dan seisinya. Meskipun tak selamanya perubahan menyisakan hasil positif, namun setidaknya perubahan akan membawa gagasan cemerlang menuju kemajuan.
Kalaulah perubahan menjadi suatu keniscayaan dan mesti ada pada tiap generasi. Karena tanpa perubahan umat manusia bagai jalan di tempat, tanpa ada kemajuan bahkan tertinggal dari perkembangan yang sudah begitu pesat. Dengan perubahan, kelayakan suatu sistem akan terjawab, juga akan menghasilkan gagasan yang penuh dengan eksperimen demi perbaikan dan pembaharuan. Oleh karenanya, reformasi total dalam suatu tatanan kehidupan terkadang memang perlu diterapkan. Karena perubahan itu adalah sebuah kepastian; senada dengan ini, Nabi Muhammad SAW., pernah bersabda:
إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها  (حديث رواه أبي هريرة وأبي علقمة وصححه الإمام أحمد ابن حنبل وأدخله الألباني في سلسلة الأحاديث الصحيحة )
“Sesungguhnya Allah SWT., akan mengutus pembaharu umat dan agama pada setiap satu abad.” (H.R. Abu Hurairah ra., dan Abu Alqamah)
Bila dimaknai secara tersurat, hadits di atas menjelaskan bahwa setiap generasi ada pelitanya. Dan setiap masa ada pemandunya. Di kegelapan akan didapati cahaya penerangnya, dan pada setiap kesunyian akan didapati keramaian. Akan tetapi, apabila dimaknai dengan pendekatan analisa siratan kalimat dan kandungan pesan, ternyata ada pesan berharga yang semestinya dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi setiap umat yakni “kenapa datang pembaharu dan apa sebab kedatangannya? juga kenapa pembaharu harus ada?” Di antara jawaban yang kita temukan adalah karena yang lama sudah tidak layak, karena yang lama harus dikolaborasikan dengan yang baru, dan karena seorang muslim harus mengambil dari yang baru selagi memberikan bermanfaat tanpa mengesampingkan yang lama selagi layak. Hal ini sesuai dengan kaidah ushuliyah “"المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح (senantiasa melestarikan tradisi lama selagi layak dan mengambil nilai-nilai baru yang menjanjikan).
Di dalam cakrawala keagamaan misalnya, seorang yang keilmuannya berkembang dituntut untuk berubah sesuai dengan kadar peningkatan keilmuannya. Sehingga agama mencela orang yang keiltelektualannya tidak berbanding lurus dengan pengaplikasinnya (red: amal ibadahnya). Rasulullah SAW., bersabda :
من ازداد علما لم يزدد هدىً لم يزدد من الله إلا بعداً (رواه ابن حبان بحديث الموقوف)
 “Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, niscaya dia hanya bertambah jauh dari Allah. (H.R. Ibn Hibban)
Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa perubahan menjadi satu kewajiban, tentunya perubahan yang menuju jalan kebaikan. Sehingga orang yang apabila ilmunya bertambah dan ketaatannya tidak berbanding lurus dengan keilmunannya niscaya ilmunya hanya memberikan mudlarat kepadanya.
Dengan demikian seorang muslim yang baik adalah yang selalu menanamkan pada dirinya untuk selalu memberikan perubahan yang menuju peningkatan kwalitas kehidupan. Perubahan yang menjadikannya lebih bermankan dari hari-hari sebelumnya. Karena prinsip dasar seorang muslim sejati adalah hari esok harus lebih baik dari hari kemaren. Hal ini sesuai dengan yang dihimbaukan para ulama tentang tekad untuk senantiasa merubah diri menuju keadaan yang lebih baik.
من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح , ومن كان يومه مثل أمسه فهو مغبون , ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون (نقله حجة الأمة الإمام الغزالي)
“Barang siapa yang harinya lebih baik daripada hari sebelumnya, maka dia telah beruntung; barang siapa yang harinya sepetri hari sebelumnya,maka ia telah merugi, dan barang siapa yang harinya lebih jelek/buruk dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang yang terlaknat.” (Seperti disebutkan Imam Ghazali di dalam Ihya’nya).

No comments: